Base Transceiver Station (BTS) merupakan komponen terpenting dalam sistem telekomunikasi di suatu daerah. Di Indonesia, masih banyak daerah-daerah yang masih belum teraliri listrik dari PLN, terutama wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal). Sehingga itu menjadi kendala dalam pembangunan BTS di daerah tersebut. Salah satu solusinya adalah membangun BTS yang menggunakan tenaga surya untuk sumber energi listriknya.

 

Sistem power supply BTS yang menggunakan tenaga surya ini mempunyai komponen utama yaitu, Modul Surya, Solar Charge Controller (SCC), dan Baterai.

 

Cara kerja dari sistem ini adalah, energi matahari akan diubah menjadi listrik DC (arus searah) oleh modul surya. Kemudian listrik DC yang dihasilkan modul surya akan dialirkan menuju baterai untuk disimpan melalui solar charge controller (SCC). SCC berfungsi untuk mengatur besar tegangan dan arus pada proses charge dan discharge baterai, serta memiliki fungsi proteksi untuk sistem. Kemudian energi yang tersimpan pada baterai akan digunakan untuk menyalakan beban DC sesuai dengan kebutuhan.

 

Jika cuaca sedang buruk dan tidak ada cahaya matahari, sistem ini masih dapat beroperasi secara normal selama beberapa hari, tergantung dari besar kapasitas baterai (kWh) yang terpasang dan seberapa besar beban yang ditanggung oleh sistem (kW). Semakin besar kapasitas baterai dan semakin kecil beban maka sistem dapat bertahan lebih lama.

 

Pada umumnya, sistem ini menggunakan tegangan sistem 48V.

Related Product